Mendorong Pemahaman Budaya dan Studi antara Indonesia-Kanada

IMG_5868   FullSizeRender_2   IMG_5881   FullSizeRender_10Duta Besar RI untuk Kanada, Dr. Teuku Faizasyah, mengatakan bahwa suatu kehormatan bagi Indonesia untuk dapat berkontribusi menambah koleksi benda seni pada Museum of Anthropology University of British Columbia (UBC) dan diharapkan pengunjung Museum dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mempelajari budaya Indonesia. Hal tersebut disampaikan Dubes RI saat mengunjungi Museum of Anthropology (MoA) pada tanggal 19 November 2015 di Vancouver.

Dubes RI didampingi oleh Konjen RI Vancouver menyerahkan koleksi batik kepada Direktur MoA, Profesor Anthony Shelton. Sumbangan KJRI Vancouver terdiri atas 3 helai kain batik, 1 helai syal batik, seperangkat kain-kebaya dan aksesorisnya serta buku “Indonesian Batik from Tradition to Global Trend” dan “Mutumanikam Nusantara Indonesia”.

Profesor Shelton menyampaikan ungkapan terima kasih atas sumbangan Indonesia yang akan memperkaya koleksi budaya MOA yang berasal dari Indonesia dan menyatakan bahwa tambahan koleksi berharga ini akan meningkatkan pemahaman mengenai kekayaan budaya Indonesia yang dapat dipelajari oleh masyarakat Kanada.

Saat ini terdapat 1133 koleksi MoA yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia namun karena keterbatasan tempat, hanya sebagian kecil yang dapat ditampilkan, seperti beberapa koleksi wayang kulit dan wayang golek, patung dan tameng dari Papua dan kentongan dari Jawa Tengah.

Dalam kesempatan kunjungan ke UBC, Dubes RI juga bertemu dengan pimpinan Institute of Asian Research (IAR) – UBC, yakni Prof. Yves Tiberghien; Associate Director of IAR, Prof. Brian Job dan Assistant Director, Dr. Kai Ostwald. IAR adalah institut penelitian dengan fokus pada studi kawasan Asia dan berada di bawahFaculty of Arts – UBC.

Dalam pertemuan dengan Dubes RI, IAR mengemukakan keinginannya untuk mengundang narasumber dari Indonesia pada level tinggi dalam rangka penyelenggaraan G-20 Hangzhou Initiative pada tahun 2016, maupun dalam rangka kunjungan ke UBC. Untuk mempererat hubungan akademisi kedua negara, IAR juga mengusulkan program Exchange Professor dengan mengundang beberapa tokoh dari Indonesia sebagai visiting professor.

You may also like...