SIMON FRASER UNIVERSITY PAMERKAN WAYANG KULIT BERUSIA 146 TAHUN


Read in Bahasa / English

Dalam rangkaian peringatan ulang tahunnya yang ke-50, Simon Fraser University (SFU) bekerja sama dengan KJRI Vancouver menyelenggarakan pameran Wayang Kulit.  Pembukaan pameran yang berlangsung pada tanggal 1 April 2016 di Museum Arkeologi dan Etnologi SFU, Burnaby, BC, Kanada tersebut dilakukan oleh Presiden SFU, Andrew Petter, dan Konsul Jenderal RI, Sri Wiludjeng,  dihadiri oleh kurang lebih 100 orang dari kalangan akedemisi, korps Konsuler, media, anggota parlemen dan budayawan.

Dalam sambutannya Konjen RI menyampaikan apresiasi kepada Museum Arkeologi dan Etnologi SFU yang telah turut melestarikan Wayang Kulit.  Dalam budaya masyarakat Jawa, Wayang Kulit memiliki nilai sakral, dan dipagelarkan pada acara-acara penting saja. Karakter dan pertunjukan wayang kulit  mengandung nilai-nilai filosofi dan budaya yang tinggi.  Pertunjukan Wayang Kulit  telah diakui oleh UNESCO sebagai “Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity”,   oleh karena itu dengan melestarikan wayang kulit, tidak hanya berarti melestarikan warisan budaya Indonesia namun juga warisan peradaban manusia.

Presiden SFU, Prof. Andrew Petter, menyampaikan Museum Arkeologi dan Etnologi SFU sejak tahun 1965 menyimpan artifak bersejarah dari wilayah BC serta berbagai wilayah lainnya di berbagi belahan lain di dunia. Keberadaan berbagai koleksi tersebut diharapkan dapat mempromosikan seni dan budaya masyarakat di berbagai belahan dunia dan membantu dalam memahami keragaman budaya. Beberapa koleksi ditampilkan secara periodik sebagaimana koleksi beberapa Wayang Kulit dari Indonesia yang pernah ditampilkan saat peringatan berdirinya SFU ke-40.

Koleksi Wayang Kulit SFU sendiri dihibahkan oleh Ferdinand Chen, seorang Warga Indonesia yang hijrah ke Kanada pada awal tahun 1960. Saat ini terdapat sekitar 600 Wayang Kulit yang menjadi koleksi Archaeology and Ethnology Museum, SFU.

Dalam acara pembukaan pameran, nuansa budaya Indonesia semakin terasa dengan pertunjukan gamelan yang dibawakan oleh para mahasiswa kelas gamelan SFU School for Contemporary Arts, yang dikomandoi oleh Sutrisno Hartana, warga Indonesia yang menjadi pengajar pada sekolah tersebut.

Untuk memberikan gambaran mengenai pertunjukan wayang, Sutrisno Hartana, yang juga merupakan seorang dalang, membawakan cuplikan adegan pembicaraan antara Rahwana dan Kumbakarna yang dibawakan dalam bahasa Inggris, diiringi alunan gamelan yang dimainkan oleh para mahasiswa School for Contemporary Arts. Pertunjukan singkat tersebut mendapat sambutan hangat dari pengunjung. Acara pameran Wayang Kulit di Museum Arkeologi dan Etnologi SFU tersebut akan berlangsung sampai dengan bulan Januari 2017.

You may also like...