DIASPORA INDONESIA PAMERKAN SEJARAH IMIGRAN INDONESIA DI KANADA

Tak kurang dari 150 orang memadati gedung Lipont Art Centre, Richmond, Provinsi British Columbia (BC), pada siang hari 25 Maret 2017. Sebagian besar diantaranya telah berusia lanjut (lansia), namun tak sedikit juga kelompok remaja dan dewasa. Semuanya menyimak sambutan yang disampaikan oleh Liza Wajong, Presiden Canada Indonesia Diaspora Society (CIDS) yang siang itu menggelar acara “Lansia Oral History Project-Kick Off Celebration”. Dalam kegiatan tersebut dipamerkan foto-foto dan cuplikan kisah perjalanan imigran Indonesia yang sudah dimulai sejak tahun 1950-an, dan juga pemutaran video.

Setelah diluncurkan pertama kali pada bulan Mei 2016, pada hari Sabtu tersebut CIDS menggelar hasil kerja keras mereka selama setahun dalam upaya mendokumentasikan sejarah kelompok imigran Indonesia di Kanada, utamanya di Provinsi BC. Kerja keras CIDS yang dibantu beberapa relawan muda  yang bertindak sebagai peneliti, pewawancara dan penerjemah tersebut telah berhasil mewawancarai tak kurang dari 22 orang yang memilki keterikatan dengan Indonesia, baik karena hubungan darah maupun karena lahir dan tinggal di Indonesia, sebelum hijrah ke Kanada. Dr.Peter Gout misalnya, lahir di Bandung dari keluarga Belanda sekitar 80 tahun lalu. Suasana revolusi mengharuskan Peter Gout mengikuti keluarganya kembali ke Belanda, sebelum akhirnya menetap di Kanada untuk mencari penghidupan yang lebih baik. “Saya masih terkenang dengan kota Bandung, dan masih merasa sebagian diri saya adalah orang Indonesia” ungkapnya. Sementara itu, Hon.John Yap anggota Legislative Assembly dari wilayah pemilihan Richmond Steveston, mengaku memiliki darah Indonesia dari ibunya yang berasal dari Belitung. “Saya senang sekali tahun 2015 lalu berkesempatan mengunjungi Belitung, Jakarta, Bandung dan Bali. Kini saya telah terhubung kembali dengan sanak keluarga saya dari pihak ibu, dan akan berkunjung lagi ke Indonesia begitu ada kesempatan” demikian ungkapnya dalam perbincangan singkat dengan Konsul Jenderal Vancouver, di sela-sela acara.

Kegiatan Oral History Project tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Premier Christy Clark yang menyampaikan sambutan tertulis “British Columbia is fortunate to be such a diverse and welcoming place, where people of all nations and cultures can preserve their heritage proudly, all the while developing strong roots in their new communities. Drawing on the challenges and successes of their elders, the LANSIA Oral History Project is such a wonderful way to record the experiences of Indonesian immigrants to Canada”.

Sementara itu Konsul Jenderal RI Vancouver dalam sambutannya selain mengapresiasi inisiatif dan kerja keras tim CIDS juga mengajak diaspora Indonesia di BC untuk tidak melupakan akar budayanya sebagai orang Indonesia, dan memberikan kontribusi untuk kemajuan Indonesia melalui berbagai saluran. Selanjutnya hasil dari Lansia Oral History Project akan dipamerkan pada bulan Mei 2017 selama sebulan penuh, sebagai bagian dari Vancouver Asian Heritage Month (sumber: KJRI Vancouver).

You may also like...