Kunjungi Vancouver, Delegasi Kementerian PPPA Pelajari Pengelolaan Rumah Singgah di Kanada


Tidak banyak yang sadar, Indonesia saat ini berada pada situasi darurat kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Untuk menanggulangi masalah tersebut, Pemerintah sedang mengembangkan konsep safe house alias rumah singgah untuk melindungi perempuan dan anak korban kekerasan. Beberapa rumah singgah memang telah dibangun di beberapa Provinsi,  “Namun masih perlu ditingkatkan. Kita juga harus memberikan prioritas pada penanggulangan dan pencegahan sebab dan akibatnya,” kata Lenny N. Rosalin, Deputi Pertumbuhan dan Pengembangan Anak, pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (PPPA).

Untuk meningkatkan kapasitas rumah singgah itulah pada 12 September 2017 Delegasi Kementerian PPPA didampingi Fungsi Pensosbud dan Fungsi Ekonomi KBRI Ottawa mengunjungi rumah singgah di Vancouver.  Kanada merupakan salah satu negara yang dinilai sangat progresif dan champion dalam mengembangkan rumah singgah. Delegasi mempelajari manajemen rumah singgah yang dikelola LSM, Atira Society dan Dixon Transition House, Vancouver.

Rumah singgah yang dikunjungi  memberikan fasilitas penampungan sementara dan menyediakan solusi tempat tinggal jangka panjang. Selain pelayanan kounseling, bantuan hukum, dan penyuluhan, para penghuni rumah singgah juga mendapat macam-macam pelatihan dan pendidikan.

“Barometer kesuksesan pelayanan kami adalah melihat perempuan dan anak korban kekerasan menjadi individu yang mandiri dan memiliki nilai tambah untuk mencapai impiannya” kata Janice Abbott, CEO Atira Women’s Society. Selama 2016, Atira Women’s Society berhasil menyediakan tempat tinggal tetap untuk 1.100 perempuan dan 400 anak.

Di samping berbagai pelatihan dan penyediaan tempat tinggal tetap, unsur pengamanan juga menjadi perhatian utama. “Kerahasiaan lokasi rumah singgah kami sangat terjaga dan belum pernah terjadi insiden ditemukan oleh pelaku kekerasan” kata Panthea Aghill, Direktur Eksekutif Dixon Transition House. Meskipun “hanya” memiliki 10 tempat tidur, rumah singgah Dixon telah melayani lebih dari 700 perempuan dan anak korban kekerasan.

Atria dan Dixon hanya dua dari belasan LSM yang menyelenggarakan rumah singgah di Kota Vancouver. Bagi perempuan dan anak korban kekerasan, prosedur untuk menikmati fasilitas di dua rumah singgah tersebut cukup mudah. Selain dari korbannya langsung, mereka juga menerima laporan dari keluarga dan/atau pihak ketiga dengan waktu kerja 24 jam dan 7 hari seminggu. Seluruh fasilitas disediakan secara gratis dan sebagian besar biaya operasional kegiatan LSM ditopang oleh Pemerintah Federal, Provinsi, Kota dan dunia usaha.

“Sangat inspiratif. Kami mempelajari banyak hal baru untuk diterapkan di Indonesia,” kata Kepala Dinas PPPA Sumatera Barat Ratna Wilis yang menjadi salah satu anggota Delegasi.

Konsul Jenderal Indonesia di Vancouver, Sri Wilujeng menyambut baik hasil pertemuan-pertemuan itu dan berharap agar praktik dan pengalaman di Kanada dapat dimanfaatkan untuk mendukung program prioritas Pemerintah Indonesia dalam penanggulangan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang perlindungan perempuan dan anak, selain mengunjungi rumah singgah yang dikelola oleh LSM, delegasi juga menggali informasi dari sisi pemerintah kota, melalui pertemuan dengan City of Vancouver’s Women’s Advisory Committee yang diselenggarakan pada tanggal 14 September 2017 di KJRI Vancouver (Sumber: KJRI Vancouver/KBRI Ottawa).

You may also like...